Jumat, 11 Juni 2010

Mahalnya Sebuah Hidayah Jum’at 28 Jumaadits Tsani 1431 H /10 Juni 2010

Cerita ini merupakan sebuah kisah yang saya alami baru-baru ini dan pertama kalinya saya alami dalam hidup saya. Hari ini adalah hari jum’at seperti biasa merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu untuk melakukan sholat Jum’at berjamaah, dan kali ini saya memutuskan untuk sholat di masjid At-Tin TMII(Taman Mini Indonesia Indah) yang kebetulan lumayan dekat dari tempat tinggal saya, walaupun di dekat tempat tinggal saya sendiri bersebelahan dengan mesjid.
Yah… seperti biasa ritual yang di lakukan oleh setiap orang yang hendak melakukan sholat kita harus berwudhu dahulu. Selepas berwudhu saya langsung naik ke lantai dua untuk bersiap menunggu sholat Jum’at dimulai. Sesampai di lantai dua saya langsung menunaikan sholat sunnah Tahiyyatul masjid, selepas sholat karena memang kondisi Jakarta pada saat itu lumayan panas dan saya kebetulan menggunakan pakaian double yang makin membuat gerah maka saya maju ke Shaf terdepan saat itu mesjid belum terlalu penuh karena masih pukul 11 dan satu hal yang saya sadari bahwa saya maju ke shaf terdepan tidak sepenuhnya karena menjalankan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W., namun karena saya hanya mau ngadem di depan kipas angin. Sambil memerhatikan orang-orang di sekeliling yang sedang asyik membaca Al-Qur’an maka saya memutuskan untuk mengambil Al-Qur’an dan tadarrus yang saya rasa bukan karena keinginan saya untuk tadarrus namun lebih tepat karena rasa minder saya dan kebosanan untuk menunggu waktu sholat.
Akhirnya Adzan telah di kumandangkan dan Khatib telah naik mimbar, Khatib yang luar biasa menurut saya tema yang dibawakan beliau adalah Amanah dan itu luar biasa a two thumbs speech , beliau memang adalah orang yang hebat seorang murid dari ulama besar Prof. DR. Quraish Shihab, namun saya rasa kehebatan Jum’at kali ini bukan terletak pada waktu Sholat Jum’at, tapi pada sebuah kisah berikutnya yang telah membuat saya merasa sangat hina sebagai seorang muslim.
Menurut pada schedule yang ada di mesjid At-Tin akan ada dialog dan proses peng-Islaman selepas sholat Jum’at. Yah saya langsung turun saja selepas sholat Jum’at, namun tidak langsung pulang karena daerah sekitar mesjid sangat macet kalo selepas Jum’at, jadi saya memutuskan untuk selonjoran di lantai satu. Suara dialog dari lantai dua membuat saya tertarik dan memutuskan naik kembali ke lantai dua, dialog yang sangat interaktif. Selepas dialog ada proses peng-Islaman pada dua orang yang akan menjadi saudara baru say, tapi ada satu hal yang luar biasa yang dikatakan oleh khatib yaitu :”Hidayah adalah barang mahal dan yang punya barang mahal itu hanya orang tertentu, anda berdua adalah orang yang di pilih oleh Allah S.W.T. “ kata-kata itu langsung membuat saya tersontak seakan ada hal dalam jiwa ini yang mengatakan “saya adalah orang yang lebih hina dari kedua saudara baru saya, karena Allah memberi mereka Hidayah sedang saya yang sudah mengenal Allah sejak lahir dan mengakui nabi Muhammad sebagai Rasul tak dapat meneteskan air mata pada saya ditanya :”apa yang membuat anda memeluk Islam ?” , namun mereka dapat meneteskan air mata tersebut. Saya rasa kalau saya akan menjawab “karena saya memiliki orang tua yang beragama Islam” bukan seperti mereka yang menjawab :”karena ini adalah panggilan hati”.
Wassalam
Di buat oleh Muhammad Syafri

1 komentar:

  1. andai waktu itu saya juga menyaksikan keislaman mereka...pasti air mata ini pun akan menetes dengan sendirinya..., subkhanalloh walhamdulillah.

    ps: saya ngajakin kolaborasi posting, jika sempat berpartisipasi yaa..? http://titimatra.blogspot.com/2010/06/keusilan-atau-reduksi-sosialitas-nih.html

    BalasHapus