بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
"10 menit lagi pesawat ini akan mendarat di Inggris, akan seperti apa kelak perjumpaan dengan sahabat lamaku ini..?" gumam Mustafa sambil memegang secarik kertas undangan di tangannya yang bertuliskan "Undangan Acara Pernikahan" dan di atasnya terdapat tulisan kecil "untuk sahabat yang selalu membantuku dan aku cintai, Mustafa" sekali lagi Mustafa membaca surat itu dan sebuah senyum kecil mengingatkannya pada sesosok pria Inggris.
sedikit guncangan menyandarkan Mustafa dari lamunannya dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik berkata dengan senyum manis "we have landed in London international Airport..." akhirnya pesawat tersebut dapat mendarat dengan sempurana di London, "Alhamdulillah ya Rabb." kalimat pertama yang terucap dari mulut Mustafa saat kakinya menapak di London,segera dia mengedarkan pandangan dan mencari temannya Sir Richard namun tak ada seorangpun yang berperawakan seperti dia, hingga tiba-tiba sebuah suara menyapa Mustafa dengan lembut "sir Mustafa ?" seorang pria Inggris yang cukup familiar di ingatan Mustafa, dia adalah Arnold - Butler keluarga Sir Richard - dengan sebuah topi dan jas hitamnya yang khas dia melemparkan sebuah senyum dengan penuh kehangatan "sir Mustafa, right ? it's been so long since the first time we met, still remember me ? " ucapnya lembut. " of course, how could i forget you Arnold ? my old friend hehe..." sambil mengalungkan sebuah pelukan hangat khas nya Mustafa kembali melemparkan senyumnya.
"please Sir, Sir Richard is waiting for you.” Sembari mempersilahkan masuk ke dalam sebuah mobil Rolls Royce Sir Richard dengan aksen halus khas orang Inggris, “Thank You Arnold, don’t be so formal. Hehe…”
Setengah jam perjalanan tak terasa telah berlalu, pemandangan yang diberikan oleh ibukota Inggris tersebut dapat menghilangkan penatnya waktu perjalanan yang ada dan tak terasa pula bahwa pemandangan di sekitar telah berubah menjadi sebuah bangunan besar yang megah, yah sebuah palace yang terakhir kali dikunjungi Mustafa 5 tahun lalu namun tetap terukir di pikirannya dengan jelas.
“Mustafa, my friend. Tak ingin memberikan sebuah pelukan bagi sobatmu ini…?” ucap Sir Richard ketika melihat Mustafa turun dari mobilnya. Secepatnya Mustafa menggerakkan kakinnya dan memberi sebuah pelukan hangat pada sobat lamanya.
“so, pestanya akan mulai 2 hari lagi dan kuharap kau mau menginap di sini. Well, tentu saja semua terserah kau lagi.. bagaimana ? “ ucap Sir Richard sembari menawarkan kepada Mustafa untuk menginap di rumahnya. “your home will be lovely.” Dengan sebuah senyum hangat tanda persahabatan Mustafa menerima undangan Sir Richard.
Malam yang cukup melelahkan bagi Mustafa, selepas makan malam yang hangat dan perbincangan kecil dengan teman lamanya. Mereka berpisah di tangga menuju lantai dua “you look so tired, pergilah beristirahat aku mungkin akan ke gereja di sebelah untuk beribadat sebantar jika kau ada keperluan, just call me okey.” Yah, Sir Richard adalah seorang kristiani yang taat namun dia tidak beribadat layaknya orang nasrani pada umumnya dia mengatakan bahwa Isa adalah seorang Nabi dan Maryam adalah seorang manusia biasa yang disucikan oleh Tuhan Allah, dia lebih mirip orang-orang nasrani yang berada di Syam pada masa Rasulullah, dia tidak memakan daging babi katanya ‘itu adalah makanan yang tidak sehat’, satu-satunya hal buruk yang tidak bisa dia tinggalkan adalah minuman keras mungkin karena merupakan sifat dasar orang-orang eropa.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatu” salam yang dikeluarkan dari mulut Mustafa pertanda bahwa dia telah mengakhiri sholatnya. Sembari membuka tasnya Mustafa mengambil sebuah Mushaf Al-Qur’an dan mulai membaca satu surah sebelum tidur, Al-Ikhlas.
Mulutnya berhenti setelah berucap ‘Shodaqollahul adhim’ – Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk “Excuse me, may I come in.” terdengar suara Sir Richard “yes, please” jawab Mustafa, dia pun bertanya tentang apa yang barusan dibaca oleh Mustafa dan Mustafa pun menjelaskan apa yang baru saja di bacanya, surah mengenai keesaan Allah dan kewajiban kita sebagai manusia meyakini tentang hal tersebut.
Terlihat kabut berada di sekitar mata Sir Richard, kemudian dia berkata “let me think about it for a while.” Sembari berjalan keluar. Mustafa kembali menggulang senyum hangatnya dan berkata “berilah dia petunjuk-Mu.”
Jam telah menunjukkan pukul 13:00, waktu terasa berjalan lambat ketika akhirnya Sir Richard meyakini Islam sebagai agamanya dan melakukan kewajiban sholatnya yang pertama. Mereka telah berkumpul di sebuah meja makan besar dan Sir Richard memperkenalkan anak satu-satunya Michael dia berkata “Mustafa, meet my son. Dia adalah anak kesayanganku dan yang paling tahu tentang aku…” kemudian dia mulai menceritakan tentang Michael yang ternyata seorang pemain opera berbakat dan tentang pernikahan Michael besok dengan seorang teman seprofesinya. Sir Richard mengatakan kepada salah seorang pelayannya Joseph “ no wine this time, it’s Haram. Right Mustafa ?” sembari memberikan anggukan kecil Mustafa menyatakan kestujuannya.
Sir Richard berkata bahwa hari ini dia mengalami kejadian yang aneh, hampir bertemu dengan malaikat maut. Pertama, ketika dia ingin mandi dan bahwa lantai kamar mandinya sangat licin sehingga membuat dia terpeleset dan hamper terbentur oleh westafel. Sembari tersenyum dia berkata “that’s why I don’t take breakfast, I was in treatment. Oh, yeah joseph apa makan pagi tadi telah kau berikan pada kucing manis kita ?” Joseph mengangguk pelan dengan datang membawa air di tangannya– pengganti wine yang biasa, Sir Richard berkata “let’s start our lunch.” Selesai Mustafa memimpin berdo’a dirinya dan Sir Richard – Michael masih berdo’a dengan cara kristiani. Sir Richard menengguk minuman pertamanya dan diikuti oleh yang lain, namun ada yang aneh tiba-tiba wajah Sir Richard terlihat begitu aneh seakan dia tak dapat bernafas dan dia pun tersungkur. Joseph segera memanggil dokter pribadi mereka dengan pakaian putihnya yang berkelabat dokter itu langsung memriksa Sir Richard dan dengan rona sedih dia mengatakan “he’s gone, dia terkena racun.” Kata-kata tersebut lantas membuat semua orang panic. Michael histeris sambil berteriak “NO WAY!! Who did that!!” kemudian dia kehilangan control atas dirinya dan akhirnya pingsan. Wajah Mustafa mulai berubah seakan dia baru melihat iblis, sembari berkata dalam banaknya “ada yang tidak beres di sini, ini pembunuhan !!”
Jumat, 20 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar