Jakarta, 7 Desember, 2009
“Madrasah Aliyah Ulil Albab…”, ucap seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah mobil mewah berwarna merah. HP di tangan kanannya bergetar, “Assalamu alaikum, Muhammad di mana kau sekarang ?”, “wa alaikum salam warahmatullah, aku baru saja masuk tol.” Jawab suara dibalik telpon tersebut, “bagaimana kabar istrimu, Humaira, apa dia ikut juga ?”, sebuah pertanyaan singkat yang sangat bersahabat terucap dari mulut pria itu, “oh, tentu saja dia pasti ikut mana mungkin dia tidak ikut, bukankah kali ini kita akan mengunjungi tempat yang berkontribusi banyak bagi kita…”, jawab Muhmmad, “Yah, tempat ini dan orang-orang di dalamnya telah banyak memberikan kontribusi bagi hidup kita, terutama pria itu… Man I miss that guy so much…”, jawab pria tersebut dengan nada yang menyimpan banyak kerinduan, “ haha… so do i.”, “ oh iya, be quick we don’t have much time left, “time is money” begitu kan yang diajarkan olehnya.”, “haha… iya, kau masih seperti Abu bakar yang kukenal. Oh, iya sudah dulu yah… wassalam.”, “wassalamu alaikum warahmatullah.” Jawab pria tersebut sembari mematikan telpon genggamnya.
Sekali lagi pria itu memandang bangunan sekolah itu dengan sebuah pandangan yang tajam dan sebuah senyuman yang melekat di bibirnya, seakan kembali ke satu titik di masa lalu, kembali menyusuri ruang waktu ke 15 tahun yang lalu.
Jakarta, 5 Juli, 1994
Sambil menengok ke arah jam tangannya seorang anak berlari secepat yang dia bisa, 7:25 angka itu yang ditunjukkan oleh jam tangannya ketika dia melewati pintu gerbang sekolah, “he..he..he… tepat waktu, hampir saja aku terlambat.” Ucap anak tersebut sembari mengatur nafasnya, “Kelas I Madrasah Aliyah Ulil Albab.” Tertulis dengan jelas di lengan kanan anak itu, sembari meluruskan kopiah yang dikenakannya anak tersebut melangkah dengan yakin menuju ruang kelas, tempat ia akan menerima pelajaran pertamanya sebagai seorang siswa Aliyah.
“Assalamu alaikum.”, ucapnya ketika memasuki ruang kelas tempat ia akan belajar. Matanya memandang mengitari setiap pojok kelas dengan sedikit keheranan, matanya hanya menangkap tiga orang manusia di dalam kelas itu sekali lagi dia melihat jam ditangannya, 7:30, “wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab seorang pria dengan nada yang sangat lembut, “silahkan duduk nak.”, dengan ragu anak tersebut melangkah dan memilih kursi paling depan tepat di sebelah teman sekelasnya, “Hay, namaku Muhammad, Muhammad Mustafa.”, sebuah perkenalan yang hangat harus dimulai secepatnya piker anak itu, “Oh, aku Abu Bakar.”, “hmm.. hebat juga anak ini, dia adalah siswa yang pertama yang datang ke kelas ini.” Gumam Muhammad dalam hatinya.
“kita tunggu sepuluh menit lagi yah anak-anak, oke ?”, ucap guru tersebut dan memang perkiraan guru itu amat tepat sebagian besar siswa baru mulai berdatangan. “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, welcome to this school, nama saya Sudirman Santoso, saya mengajar bahasa Inggris di sini.”, “apa bahasa Inggris, kenapa harus ketemu harus ketemu bahasa Inggris di hari pertama sekolah sih.”, ucap Muhammad dalam pikirannya. Sesekali dia melihat ke arah Abu bakar yang sepertinya menunjukkan keenggangan untuk belajar bahasa Inggris, “Pasti dia sama denganku dalam pelajaran ini, yang kalo kata orang sana STUPID. Haha… setidaknya aku punya teman.”, pikirnya.
“Abu bakar.”, ucap guru tersebut semberi mengecek absensi yang dipegangnya, “Aisyah Al-Humairah.”, “oh… ternyata nama anak itu Aisyah yah…” gumam Muhammad sembari melihat kepada seorang anak gadis yang mendahuluinya datang ke kelas, “Muhammad Mustafa”, segera Muhammad mengangkat tangannya. “Hey, Abu bakar kau mengerti dengan bahasa Inggris, jujur aku paling tidak bisa bahasa Inggris… hehe…”, ucap Muhammad membuka percakapan konyolnya sebagai penghilang bosan di kelas. “yah, seharusnya aku tidak masuk kelas hari ini.”, jawab Abu bakar seakan bahasa Inggris adalah hal yang paling ia benci.
30 menit kelas berjalan dan yang ditangkap oleh kedua anak itu hanya hal aneh, “bal-beol was-wes-wos tang-teng-tong…”, kata-kata itu yang tertangkap oleh indra pendengaran kedua anak itu. Kelas telah selesai dan pak Dirman – yah itu adalah nama panggilan dari Bapak Sudirman Santoso – telah keluar dari kelas beberapa menit yang lalu, satu hal yang bisa tertangkap dari wajah kedua anak itu “SUNTUK”, sedetik kemudian mereka berdua berpandangan dan hal yang pertama mereka lakukan adalah saling mentertawakan nasib mereka hari itu. Dari pertemuan awal dengan pak Sudirman akan banyak hal luar biasa yang terjadi dengan mereka berdua dan akan mengubah hidup mereka, sebuah kombinasi unik antara persahabatan, takdir dan BAHASA INGGRIS.
Hari-hari berlalu seperti biasa, hingga suatu ketika perjalanan takdir membawa mereka ke dalam sebuah petualangan hidup yang baru. “Muhammad…”, seru seorang anak yang baru saja memasuki ruang kelas, “yah, ada apa ?”, “kau dipanggil oleh pak Dirman dan disuruh ke ruang guru sekarang.”
“oh, sial pasti karena nilai bahasa Inggrisku yang jelek. Lagipula sebenarnya itu bukan salahku, ada tiga hal yang harus disalahkan di sini, pertama, takdir yang membuat bahasa Inggris masuk ke Indonesia, kedua, kemampuan bahasa Inggrisku sendiri, dan yang ketiga guru itu.”, ucap Muhammad dalam perjalanannya menuju ruang guru.
“hey, Abu bakar apa yang kau lakukan di sini ?”, Tanya Muhammad agak heran melihat Abu bakar berada di ruang guru, “aku dipanggil oleh pak Dirman, kau sendiri ?”, jawab Abu bakar sembari kembali bertanya. “yah kita datang dengan alasan yang sama.” Tiba-tiba Aisyah datang memasuki ruang guru. “Aisyah kau juga dipanggil oleh pak Dirman ?” Tanya Muhammad kepada Aisyah yang baru saja masuk, “iya, kira-kira ada apa yah ?”, ucap Aisyah, “kurang tau juga sih.”, “Assalamu alaikum, anak-anak.” Ucap pak Dirman yang muncul tiba-tiba. “wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh, sir.”, ucap mereka bertiga serempak. “Jadi begini anak-anak, kalian bertiga saya pilih untuk mengikuti lomba debat bahasa Inggris yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi.”, ucap pak Dirman langsung ke pokok pembicaraan. Seketika muncul dua ekspresi dari ketiga anak tersebut, pertama ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari wajah Aisyah – dia memang pandai dan senang dengan bahasa Inggris – dan ekspresi kedua, sebuah ekspresi nestapa yang muncul dari wajah Muhammad dan Abu bakar. “tapi, pak saya tidak bisa bahasa Inggris pak, nilai ulangan saja paling tinggi 7 dan rata-ratanya 6,0 pak.” Ucap Muhammad dengan keberatan yang sangat, “sama pak, saya juga.” Ucap Abu bakar mendukung pernyataan Muhammad. “tapi saya tidak menemukan ada syarat anak yang mengikuti lomba harus memiliki nilai di atas delapan, oh iya dalam kelompok ini yang menjadi ketua adalah Muhammad dan kita akan memulai latihan intensif tiga kali setiap minggu, terima kasih anak-anak atas pengertian kalian.”, ucap pak Dirman dengan sebuah senyuman khasnya, “sama-sama pak, yang harusnya berterima kasih saya pak karena sudah dipilih.”, kata-kata yang jelas hanya keluar dari mulut Aisyah. “hari-hari neraka dimulai !!!”, ucap Muhammad kepada Abu bakar setelah pak Dirman keluar ruangan, “he’eh.”, sebuah jawaban singkat, padat, dan penuh dengan kenestapaan diucapkan Abu bakar.
Hari pertama latihan intensif telah dimulai yang berarti telah dimulai pula hari-hari kenistaan dan kenestapaan bagi Abu bakar dan Muhammad, yah kedua sahabat itu bagaikan susu dan kopi terhadap bahasa Inggris, hitam dan putih, pahit dan manis, intinya mereka sangat membenci atau mungkin sangat bebal(untuk lebih halus) terhadap pelajaran ini.
“Assalamu alaikum.”, ucap seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu, yah dia adalah bapak Sudirman Santoso, “wa alaikum salam warahmtullah, sir.” Jawab ketiga anak itu serempak. Tanpa basa-basi pak Sudirman mengambil sebuah kapur tulis dan menuliskan sebuah angka atau lebih tepat disebut tanggal, di papan tulis yang ada “7 Desember 2009.” Kemudian pak Sudirman membuka percakapan singkat “anak-anak kalian tahu mengapa saya menuliskan tanggal itu di papan ? “, semua mata seakan menunjukkan hal yang sama “Tidak tahu.”, sebagai seorang guru pak Sudirman mengetahui hal tersebut, yang kemudian disusul oleh sebuah pernyataan “kalian tidak perlu tahu itu sekarang, karena suatu saat saya akan memberitahukannya kepada kalian, yang mesti kalian lakukan sekarang adalah menuliskan tanggal tersebut besar-besar di buku kalian, oke ?”, dengan kepatuhan yang amat ketiga anak tersebut menuliskan tanggal tersebut di bagian terdepan buku mereka.
Sekali lagi hari itu yang didapatkan oleh mereka adalah “was-wes-wos… pank-penk-ponk… bla-ble-blo…”, kecuali Aisyah yang terlihat paling faham di antara mereka bertiga dan memang dia yang paling faham di antara mereka bertiga, tapi di balik itu semua ada hal berbeda yang mereka dapatkan : sebuah catatan tanggal yang tadi dituliskan oleh pak Dirman, sebuah tanda tanya besar bagi mereka bertiga yang suatu saat akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidup mereka.
Hari-hari latihan telah mereka lewati dan dalam beberapa hari lagi mereka sudah harus mengikuti lomba tersebut, sedikit banyak sebanarnya Muhammad dan Abu bakar sudah mulai mengerti tentang bahasa Inggris, tapi tetap saja mereka berdua belum siap untuk lomba itu apalagi dengan sangat mengejutkan pak Dirman memilih Muhammad sebagai pembicara pertama, yang berarti nasib tim tersebut ditentukan oleh dua hal : takdir dari-Nya dan Muhammad sendiri.
Hari H sudah tiba dan dengan keyakinan mantap pak Dirman memandang anak-anak asuhannya sembari menyunggingkan senyum paling baik yang dimilikinya, seakan-akan senyum itu berkata “kalian bisa menang dan aku yakin dengan hal itu.” Bagi Aisyah hal itu adalah sebuah pemicu semangat walaupun dia masih menyimpan berbagai macam tanya mengenai keputusan pak Dirman, tentang mengapa beliau memilih Muhammad sebagai pembicara pertama, yah mungkin untuk pelajaran di kelas Muhammad dan Abu bakar sudah membaik, nilai-nilai mereka sudah berada di antara angka 7 dan 8, namun tetap saja menurut Aisyah ini adalah lomba yang tidak sesederhana pelajaran di kelas dan karena hal itu juga dia telah berkali-kali meminta pak Dirman agar menjadikan dia pembicara pertama dan setiap kali itu pula pak Dirman menjawab “kau akan tahu mengapa aku memilih Muhammad sebagai pembicara pertama sekaligus ketua grup ini.”, senyum itu tentu saja memiliki arti buat Abu bakar dan Muhammad, yaitu “guru ini gila, kenapa dia masih bisa tersenyum padahal kekalahan sudah bersifat absolut seperti satu tambah satu sama dengan dua.”, yang tentu saja walau berpikir seperti ini mereka berdua tetap berusaha membalas dengan sebuah senyum paling hangat dan paling optimis yang mereka bisa.
Lomba berlalu dengan cukup “aneh”, karena grup mereka seakan tak bisa membalas serangan dan argumen-argumen dari grup lawan, apalagi Abu bakar sebagai pembicara kedua, argumen yang bisa dia tangkap dari lawan hanya “this house believe that abortion is bla..bla…bla…”, sehingga jawaban yang bisa diberikan menjadi “actually i totally ee… disagree with ee…your opinion about ee…”, sehingga hasil dari pertandingan itu mengikuti teori mutlak Muhammad, yaitu (Muhammad + Abu bakar) X lomba debat bahasa Inggris = kekalahan mutlak, tentu saja Aisyah tidak masuk dalam teori bodoh itu, namun satu hal yang tidak diketahui Muhammad tentang teotri bodoh itu, bahwa suatu saat teori itu akan berubah 180 derajat dari sekarang.
Lomba tersebut telah memberikan hasilnya, namun ada hal aneh yang membuat mereka bertiga bingung, yaitu pak Dirman, mereka sudah tahu betul bahwa hasil seperti ini sudah diketahui oleh pak Dirman, namun tetap saja dia masih memancarkan wajah ketenangan yang sama tanpa kegundahan sedikitpun, tapi mereka tidak terlalu memikirkannya apalagi Muhammad yang berpikir bahwa dengan hasil ini tugasnya telah selesai, yah itu pikirnya namun bukankah Allah punya takdir-Nya sendiri bagi mereka bertiga…
Dalam perjalanan pulang pak Dirman tersenyum dengan sedikit jenaka dan… aneh untuk mengatakannya, tapi senyuman itu menenangkan terutama bagi mereka bertiga. Pak Dirman kembali membuka sebuah perbincangan untuk mencairkan suasana, tapi bukan itu intinya karena kata-kata terakhir pak Dirman membuat wajah Muhammad dan Abu bakar kembali menjadi sangat aneh dan menyedihkan, terlihat seperti seseorang wanita yang sedang melahirkan seorang anak. Dengan tenang beliau berkata “Tahun depan kita datang lagi yah, dan saya ingin kalian bisa lebih baik dari lomba kali ini, oke ?”, yang mau tidak mau diamini oleh mereka bertiga, yah mau untuk Aisyah dan tidak mau untuk Muhammad dan Abu bakar.
Sehari setelah perlombaan pak Dirman memanggil Abu bakar ke ruangannya dan berbincang dengannya, “duduk anakku.”, katanya tenang kepada Abu bakar sembari menunjuk sebuah kursi kayu di depannya. Abu bakar duduk dengan menyimpan sebuah tanda tanya mengapa ia sampai dipanggil oleh pak Dirman, “jadi, begini Abu bakar, kemarin kau sudah melihat siapa yang berhasil memegang piala kemenangan itu, bukan ?”, ucap pak Dirman yang dibalas dengan anggukan kecil dari Abu bakar, “apakah kau tak merasa iri ?”, tanya pak Dirman kepada Abu bakar, “yah, tentu saja pak, maksud saya pak selama ini saya merupakan tipe orang yang tidak suka menerima kekalahan apalagi sepecundang yang kemarin.”, jawab Abu bakar sembari menunjukkan perasaan tak senangnya terhadap hal kemarin, “karena itu aku menyuruh kalian untuk maju lagi tahun depan, agar kau bisa sedikit membalaskan kekalahan yang kemarin dan satu lagi aku ingin menantangmu nak, bagaimana ?”, tanya pak Dirman dengan nada yang agak ditinggikan, “boleh pak, apa tantangannya ?”, jawab Abu bakar dengan nada bersemangat, “ini tantangannya, jika kalian bisa memenangkan perlombaan itu sampai tingkat nasional maka saya akan mengakui kamu sebagai murid terbaik yang pernah saya ajar dan saya jamin nilai kamu akan menjadi yang terbaik dan tidak akan ada lagi murid yang saya ajar yang akan mendapat hasil lebih tinggi dari nilaimu, tapi… jika kau gagal maka kau harus mengakui kekalahanmu di hadapan semua orang dan harus siap untuk menjadi orang yang akan mendapat nilai paling rendah di antara semua orang yang saya ajar dan yang akan saya ajar, bagaimana ?”, dengan nada menantang pak Dirman mengajukan tantangannya kepada Abu bakar yang membuat Abu bakar terdiam sejenak sembari berpikir segala konsekuensinya yang kemudian dijawabnya dengan mantap, “oke sir, I’ll take it.”, pak Dirman sudah tahu tentang Abu bakar, bahwa dia adalah orang yang tidak suka dipencundangi dan tak suka menerima kekalahan tanpa perjuangan maksimal. Maka perbincangan mereka kali itu diakhiri oleh tiga hal, sebuah pertaruhan, jabat tangan, dan salam.
Jumat, 26 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar