بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
"10 menit lagi pesawat ini akan mendarat di Inggris, akan seperti apa kelak perjumpaan dengan sahabat lamaku ini..?" gumam Mustafa sambil memegang secarik kertas undangan di tangannya yang bertuliskan "Undangan Acara Pernikahan" dan di atasnya terdapat tulisan kecil "untuk sahabat yang selalu membantuku dan aku cintai, Mustafa" sekali lagi Mustafa membaca surat itu dan sebuah senyum kecil mengingatkannya pada sesosok pria Inggris.
sedikit guncangan menyandarkan Mustafa dari lamunannya dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik berkata dengan senyum manis "we have landed in London international Airport..." akhirnya pesawat tersebut dapat mendarat dengan sempurana di London, "Alhamdulillah ya Rabb." kalimat pertama yang terucap dari mulut Mustafa saat kakinya menapak di London,segera dia mengedarkan pandangan dan mencari temannya Sir Richard namun tak ada seorangpun yang berperawakan seperti dia, hingga tiba-tiba sebuah suara menyapa Mustafa dengan lembut "sir Mustafa ?" seorang pria Inggris yang cukup familiar di ingatan Mustafa, dia adalah Arnold - Butler keluarga Sir Richard - dengan sebuah topi dan jas hitamnya yang khas dia melemparkan sebuah senyum dengan penuh kehangatan "sir Mustafa, right ? it's been so long since the first time we met, still remember me ? " ucapnya lembut. " of course, how could i forget you Arnold ? my old friend hehe..." sambil mengalungkan sebuah pelukan hangat khas nya Mustafa kembali melemparkan senyumnya.
"please Sir, Sir Richard is waiting for you.” Sembari mempersilahkan masuk ke dalam sebuah mobil Rolls Royce Sir Richard dengan aksen halus khas orang Inggris, “Thank You Arnold, don’t be so formal. Hehe…”
Setengah jam perjalanan tak terasa telah berlalu, pemandangan yang diberikan oleh ibukota Inggris tersebut dapat menghilangkan penatnya waktu perjalanan yang ada dan tak terasa pula bahwa pemandangan di sekitar telah berubah menjadi sebuah bangunan besar yang megah, yah sebuah palace yang terakhir kali dikunjungi Mustafa 5 tahun lalu namun tetap terukir di pikirannya dengan jelas.
“Mustafa, my friend. Tak ingin memberikan sebuah pelukan bagi sobatmu ini…?” ucap Sir Richard ketika melihat Mustafa turun dari mobilnya. Secepatnya Mustafa menggerakkan kakinnya dan memberi sebuah pelukan hangat pada sobat lamanya.
“so, pestanya akan mulai 2 hari lagi dan kuharap kau mau menginap di sini. Well, tentu saja semua terserah kau lagi.. bagaimana ? “ ucap Sir Richard sembari menawarkan kepada Mustafa untuk menginap di rumahnya. “your home will be lovely.” Dengan sebuah senyum hangat tanda persahabatan Mustafa menerima undangan Sir Richard.
Malam yang cukup melelahkan bagi Mustafa, selepas makan malam yang hangat dan perbincangan kecil dengan teman lamanya. Mereka berpisah di tangga menuju lantai dua “you look so tired, pergilah beristirahat aku mungkin akan ke gereja di sebelah untuk beribadat sebantar jika kau ada keperluan, just call me okey.” Yah, Sir Richard adalah seorang kristiani yang taat namun dia tidak beribadat layaknya orang nasrani pada umumnya dia mengatakan bahwa Isa adalah seorang Nabi dan Maryam adalah seorang manusia biasa yang disucikan oleh Tuhan Allah, dia lebih mirip orang-orang nasrani yang berada di Syam pada masa Rasulullah, dia tidak memakan daging babi katanya ‘itu adalah makanan yang tidak sehat’, satu-satunya hal buruk yang tidak bisa dia tinggalkan adalah minuman keras mungkin karena merupakan sifat dasar orang-orang eropa.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatu” salam yang dikeluarkan dari mulut Mustafa pertanda bahwa dia telah mengakhiri sholatnya. Sembari membuka tasnya Mustafa mengambil sebuah Mushaf Al-Qur’an dan mulai membaca satu surah sebelum tidur, Al-Ikhlas.
Mulutnya berhenti setelah berucap ‘Shodaqollahul adhim’ – Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk “Excuse me, may I come in.” terdengar suara Sir Richard “yes, please” jawab Mustafa, dia pun bertanya tentang apa yang barusan dibaca oleh Mustafa dan Mustafa pun menjelaskan apa yang baru saja di bacanya, surah mengenai keesaan Allah dan kewajiban kita sebagai manusia meyakini tentang hal tersebut.
Terlihat kabut berada di sekitar mata Sir Richard, kemudian dia berkata “let me think about it for a while.” Sembari berjalan keluar. Mustafa kembali menggulang senyum hangatnya dan berkata “berilah dia petunjuk-Mu.”
Jam telah menunjukkan pukul 13:00, waktu terasa berjalan lambat ketika akhirnya Sir Richard meyakini Islam sebagai agamanya dan melakukan kewajiban sholatnya yang pertama. Mereka telah berkumpul di sebuah meja makan besar dan Sir Richard memperkenalkan anak satu-satunya Michael dia berkata “Mustafa, meet my son. Dia adalah anak kesayanganku dan yang paling tahu tentang aku…” kemudian dia mulai menceritakan tentang Michael yang ternyata seorang pemain opera berbakat dan tentang pernikahan Michael besok dengan seorang teman seprofesinya. Sir Richard mengatakan kepada salah seorang pelayannya Joseph “ no wine this time, it’s Haram. Right Mustafa ?” sembari memberikan anggukan kecil Mustafa menyatakan kestujuannya.
Sir Richard berkata bahwa hari ini dia mengalami kejadian yang aneh, hampir bertemu dengan malaikat maut. Pertama, ketika dia ingin mandi dan bahwa lantai kamar mandinya sangat licin sehingga membuat dia terpeleset dan hamper terbentur oleh westafel. Sembari tersenyum dia berkata “that’s why I don’t take breakfast, I was in treatment. Oh, yeah joseph apa makan pagi tadi telah kau berikan pada kucing manis kita ?” Joseph mengangguk pelan dengan datang membawa air di tangannya– pengganti wine yang biasa, Sir Richard berkata “let’s start our lunch.” Selesai Mustafa memimpin berdo’a dirinya dan Sir Richard – Michael masih berdo’a dengan cara kristiani. Sir Richard menengguk minuman pertamanya dan diikuti oleh yang lain, namun ada yang aneh tiba-tiba wajah Sir Richard terlihat begitu aneh seakan dia tak dapat bernafas dan dia pun tersungkur. Joseph segera memanggil dokter pribadi mereka dengan pakaian putihnya yang berkelabat dokter itu langsung memriksa Sir Richard dan dengan rona sedih dia mengatakan “he’s gone, dia terkena racun.” Kata-kata tersebut lantas membuat semua orang panic. Michael histeris sambil berteriak “NO WAY!! Who did that!!” kemudian dia kehilangan control atas dirinya dan akhirnya pingsan. Wajah Mustafa mulai berubah seakan dia baru melihat iblis, sembari berkata dalam banaknya “ada yang tidak beres di sini, ini pembunuhan !!”
Jumat, 20 Agustus 2010
Sabtu, 07 Agustus 2010
Support Ground Zero Mosque

ini pertama kalinya karya saya membahas masalah yang terjadi di dunia luar, namun saya rasa kali ini setiap orang harus bahu membahu untuk membantu dunia ini agar mereka lebih mengenal apa itu Islam. maksudnya bukankah dunia ini adalah tempat agar kita saling memahami satu sama lain dan lebih membuka mata atas perbedaan.
pembangunan mesjid di lokasi Ground Zero(dekat lokasi 9/11) bukan berarti umat Islam menyepelakan dan tidak menghargai para korban 9/11., mesjid tersebut saya yakin dibangun hanya berniat untuk lebih memperjelas keadaan umat Islam yang pada dasarnya cinta damai..
maka, dari itu dengan tulisan ini saya berharap agar orang-orang Indonesia mendukung pembangunan mesjid di Ground Zero, baik muslim ataupun non-muslim. karena ini menunjukkan keikhlasan kita dalam menerima perbedaan dan lebih menghargai satu sama lain.
terima kasih
Rabu, 04 Agustus 2010
Muhammad The Messenger

Muhammad The Messenger, sebuah novel sejarah yang tercipta dari kerja keras seorang penulis muslim Abdurrahman Asy Syarqawi.
novel yang merupakan karya terjemahan ini merupakan novel yang sangat menarik, bagai sebuah mesin waktu novel ini sanggup membawa anda kembali ke 1400 tahun yang lalu mengajak anda untuk lebih mengenal pendiri sekaligus pembaharu dunia Muhammad saw.
novel ini lebih menekankan sifat-sifat "kemanusiaan" nabi Muhammad, sehingga membuat kita sebagi seorang muslim atau muslimah tidak mengatakan "yah.. dia adalah seorang nabi, wajar kalau dia begitu alim.", tapi novel ini akan membuat anda mengatakan "perjuangan yang berat yang dilakukan oleh beliau harus aku lanjutkan, beliau makan, minum, menikah, tertawa, menangis dsb. aku pun begitu " namun di satu sisi novel ini tetap menunjukkan kemuliaan Rasulullah saw. "A must read novel" satu hal yang bisa saya katakan Abdurrahman Asy Syarqawi telah membuat kita melihat sirah nabawi dari sudut pandang yang berbeda, namun tetap membuat kita makin mengagumi Nabi Muhammad saw.
Jumat, 11 Juni 2010
Mahalnya Sebuah Hidayah Jum’at 28 Jumaadits Tsani 1431 H /10 Juni 2010
Cerita ini merupakan sebuah kisah yang saya alami baru-baru ini dan pertama kalinya saya alami dalam hidup saya. Hari ini adalah hari jum’at seperti biasa merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu untuk melakukan sholat Jum’at berjamaah, dan kali ini saya memutuskan untuk sholat di masjid At-Tin TMII(Taman Mini Indonesia Indah) yang kebetulan lumayan dekat dari tempat tinggal saya, walaupun di dekat tempat tinggal saya sendiri bersebelahan dengan mesjid.
Yah… seperti biasa ritual yang di lakukan oleh setiap orang yang hendak melakukan sholat kita harus berwudhu dahulu. Selepas berwudhu saya langsung naik ke lantai dua untuk bersiap menunggu sholat Jum’at dimulai. Sesampai di lantai dua saya langsung menunaikan sholat sunnah Tahiyyatul masjid, selepas sholat karena memang kondisi Jakarta pada saat itu lumayan panas dan saya kebetulan menggunakan pakaian double yang makin membuat gerah maka saya maju ke Shaf terdepan saat itu mesjid belum terlalu penuh karena masih pukul 11 dan satu hal yang saya sadari bahwa saya maju ke shaf terdepan tidak sepenuhnya karena menjalankan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W., namun karena saya hanya mau ngadem di depan kipas angin. Sambil memerhatikan orang-orang di sekeliling yang sedang asyik membaca Al-Qur’an maka saya memutuskan untuk mengambil Al-Qur’an dan tadarrus yang saya rasa bukan karena keinginan saya untuk tadarrus namun lebih tepat karena rasa minder saya dan kebosanan untuk menunggu waktu sholat.
Akhirnya Adzan telah di kumandangkan dan Khatib telah naik mimbar, Khatib yang luar biasa menurut saya tema yang dibawakan beliau adalah Amanah dan itu luar biasa a two thumbs speech , beliau memang adalah orang yang hebat seorang murid dari ulama besar Prof. DR. Quraish Shihab, namun saya rasa kehebatan Jum’at kali ini bukan terletak pada waktu Sholat Jum’at, tapi pada sebuah kisah berikutnya yang telah membuat saya merasa sangat hina sebagai seorang muslim.
Menurut pada schedule yang ada di mesjid At-Tin akan ada dialog dan proses peng-Islaman selepas sholat Jum’at. Yah saya langsung turun saja selepas sholat Jum’at, namun tidak langsung pulang karena daerah sekitar mesjid sangat macet kalo selepas Jum’at, jadi saya memutuskan untuk selonjoran di lantai satu. Suara dialog dari lantai dua membuat saya tertarik dan memutuskan naik kembali ke lantai dua, dialog yang sangat interaktif. Selepas dialog ada proses peng-Islaman pada dua orang yang akan menjadi saudara baru say, tapi ada satu hal yang luar biasa yang dikatakan oleh khatib yaitu :”Hidayah adalah barang mahal dan yang punya barang mahal itu hanya orang tertentu, anda berdua adalah orang yang di pilih oleh Allah S.W.T. “ kata-kata itu langsung membuat saya tersontak seakan ada hal dalam jiwa ini yang mengatakan “saya adalah orang yang lebih hina dari kedua saudara baru saya, karena Allah memberi mereka Hidayah sedang saya yang sudah mengenal Allah sejak lahir dan mengakui nabi Muhammad sebagai Rasul tak dapat meneteskan air mata pada saya ditanya :”apa yang membuat anda memeluk Islam ?” , namun mereka dapat meneteskan air mata tersebut. Saya rasa kalau saya akan menjawab “karena saya memiliki orang tua yang beragama Islam” bukan seperti mereka yang menjawab :”karena ini adalah panggilan hati”.
Wassalam
Di buat oleh Muhammad Syafri
Yah… seperti biasa ritual yang di lakukan oleh setiap orang yang hendak melakukan sholat kita harus berwudhu dahulu. Selepas berwudhu saya langsung naik ke lantai dua untuk bersiap menunggu sholat Jum’at dimulai. Sesampai di lantai dua saya langsung menunaikan sholat sunnah Tahiyyatul masjid, selepas sholat karena memang kondisi Jakarta pada saat itu lumayan panas dan saya kebetulan menggunakan pakaian double yang makin membuat gerah maka saya maju ke Shaf terdepan saat itu mesjid belum terlalu penuh karena masih pukul 11 dan satu hal yang saya sadari bahwa saya maju ke shaf terdepan tidak sepenuhnya karena menjalankan Sunnah Nabi Muhammad S.A.W., namun karena saya hanya mau ngadem di depan kipas angin. Sambil memerhatikan orang-orang di sekeliling yang sedang asyik membaca Al-Qur’an maka saya memutuskan untuk mengambil Al-Qur’an dan tadarrus yang saya rasa bukan karena keinginan saya untuk tadarrus namun lebih tepat karena rasa minder saya dan kebosanan untuk menunggu waktu sholat.
Akhirnya Adzan telah di kumandangkan dan Khatib telah naik mimbar, Khatib yang luar biasa menurut saya tema yang dibawakan beliau adalah Amanah dan itu luar biasa a two thumbs speech , beliau memang adalah orang yang hebat seorang murid dari ulama besar Prof. DR. Quraish Shihab, namun saya rasa kehebatan Jum’at kali ini bukan terletak pada waktu Sholat Jum’at, tapi pada sebuah kisah berikutnya yang telah membuat saya merasa sangat hina sebagai seorang muslim.
Menurut pada schedule yang ada di mesjid At-Tin akan ada dialog dan proses peng-Islaman selepas sholat Jum’at. Yah saya langsung turun saja selepas sholat Jum’at, namun tidak langsung pulang karena daerah sekitar mesjid sangat macet kalo selepas Jum’at, jadi saya memutuskan untuk selonjoran di lantai satu. Suara dialog dari lantai dua membuat saya tertarik dan memutuskan naik kembali ke lantai dua, dialog yang sangat interaktif. Selepas dialog ada proses peng-Islaman pada dua orang yang akan menjadi saudara baru say, tapi ada satu hal yang luar biasa yang dikatakan oleh khatib yaitu :”Hidayah adalah barang mahal dan yang punya barang mahal itu hanya orang tertentu, anda berdua adalah orang yang di pilih oleh Allah S.W.T. “ kata-kata itu langsung membuat saya tersontak seakan ada hal dalam jiwa ini yang mengatakan “saya adalah orang yang lebih hina dari kedua saudara baru saya, karena Allah memberi mereka Hidayah sedang saya yang sudah mengenal Allah sejak lahir dan mengakui nabi Muhammad sebagai Rasul tak dapat meneteskan air mata pada saya ditanya :”apa yang membuat anda memeluk Islam ?” , namun mereka dapat meneteskan air mata tersebut. Saya rasa kalau saya akan menjawab “karena saya memiliki orang tua yang beragama Islam” bukan seperti mereka yang menjawab :”karena ini adalah panggilan hati”.
Wassalam
Di buat oleh Muhammad Syafri
Senin, 24 Mei 2010
Sekilas tentang buku The Gate Of Heaven

Buku ini merupakan salah satu karya spektakuler yang pernah saya baca, sedikit synopsis tentang cerita yang telah membuat saya tidak bisa berhenti membaca dari halaman awal sampai akhir.
Buku ini menceritakan tentang bagaimana perjuangan para pejuang pecinta Syahid dari HAMAS dalam melawan aggressor laknatullah Zionis-Israel yang berusaha merabut tanah suci Yerussalem dari kaum muslimin, bagian yang paling istimewa dari buku ini adalah ketika Allah ingin menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengulang sejarah awal Islam dimana jumlah tak berarti kemenangan dan bagaimana serunya dan indahnya para pencari Syahid mendapatkan kemulian di sisi Rabb yang mulia.
Saya tidak bisa menceritakan panjang lebar tentang buku ini namun satu hal yang bisa saya katakan penulis buku ini dapat dengan memukau menggoreskan “tinta”nya dalam menceritakan kisah Epik, Roman dan Spiritual dalam lembar yang terbatas namun keindahan tak terkira.
Saya jamin bagi anda musllim sejati yang selalu mencintai negeri Akhirat anda tak akan menyesal membeli buku ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Minggu, 02 Mei 2010
Gaza no. 1 health center in the world
Seorang wartawan yang baru beberapa bulan bekerja di salah satu majalah terkenal di negera Arab menjelaskan bahwa Gaza adalah pusat kesehatan terbesar (The Biggest Health Center) di dunia. Ceritanya bermula ketika sekretaris pimpinan redaksi (Pemred) majalah itu memberitahukan bahwa wartawan bernama Sa’id itu harus segera menghadap sang Pemred. Dengan hati gembira, wartawan yang masih muda dan enerjik tersebut segera menghadap pimpinannya.
Sa’id diterima dengan sangat hangat oleh pimpinannya sambil berkata : Selamat datang wartawan muda…. Terbukti keberadaan Anda yang tidak begitu lama di Gaza telah membuktikan pada kami bahwa Anda adalah wartawan yang tangguh dan serius. Saya mewakili pimpinan media ini mengucapkan banyak terima kasih..
Sebagai imbalannya, saya memutuskan Anda menulis laporan utama untuk terbitan pekan depan terkait dengan blokade terhadap Gaza yang dilakukan oleh Yahudi dan pemerintah Mesir. Sa’idpun menjawab dengan penuh semangat : Terima kasih pak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Semoga saya bisa melaksanakan tugas mulia ini dengan baik dan maksimal. Tema Gaza ini memang menjadi konsentrasi saya sejak saya diterima bekerja di majalah ini.
Sa’id melanjutkan ungkapan kegembiraannya : Saya akan tulis semua hal terkait dengan Gaza secara detail karana saat ini hati kaum Muslimin sedunia memang sedang terluka dan bersedih melihat blokade terhadap Gaza.
Sambil menganggukkan kepala, sang Pemred berucap; Anda benar, Anda benar… lalu Sa’id berkata : Saya akan mulai segera dan akan buat tulisan-tulisan yang akan menggema ke seluruh penjuru dunia, insya Allah…Barakallahu fika ya akhi… (semoga Allah memberkahimu saudaraku), ucap sang Pemred tadi. Namun, sebelum Anda mulai menulis, ada beberapa catatan kecil yang perlu Anda perhatikan. Sai’id segera beratanya : Apakah catatan kecil itu pak?
Lalu sang Pemred meneruskan: Andakan tahu bahwa majalah kita ini tidak didukung oleh tokoh-tokoh besar di negeri ini. Maksudnya? Kata Sai’d, sambil menyela perkataan pimpinannya itu. Maksudnya, tulisan Anda jangan sampai menyinggung pemerintahan Arab yang terlibat memblokade Gaza dengan penuh semangat dan begitu aktif.. Semoga Allah meridhai Anda..Kita tidak mau bermasalah dengan para inteligen negera-negara Arab yang ikut memblokade Gaza… Bisa-bisa kita dituduh merusak hubungan persaudaraan antar negara-negara Arab, kata Pemred itu..
Sambil melepaskan nafas panjangnya, Sai’d menjawab : Yaach… Oke pak. Saya akan jaga catatan itu, kendati saya melihat hubungan persaudaraan negara-negara Arab tidak akan bisa dirusak oleh siapapun…Lalu sang Pemred meneruskan arahannya :
Barakallhu fik… Tapi, ada catatan kecil lagi yang tak kalah pentingnya yang perlu Anda ingat. Apa itu? Jawab Sa’id… Andakan tahu bahwa distribusi majalah kita bukan hanya di negera-negara Arab, akan tetapi juga di negara-negara Eropa dan Amerika. Kita tidak mau dituduh mendukung terorisme sehingga majalah kita dilarang beredar di sana. Sebab itu, dalam tulisan nanti, Anda jangan sama sekali menyinggung perlawanan bangsa Palestina terhadap Israel dan hak mereka untuk memerangi penjajah Yahudi… Kita tidak mau menghadapi banyak masalah…Nanti kita dituduh mendukung teroris. Oke? Semoga Allah meridhai Anda. Kata Pemred majalah tersebut.
Mendengar keterangan pimpinannya, Sa’id menjawab : Baik pak! Padahal dalam hatinya berkata : Sadis amat Pemred ini, mau membela Gaza, tapi tidak boleh ini dan tidak boleh itu? Dalam hatinya ia berkata : Aku tidak mengerti bagaimana cara membela masyarakat Gaza yang tak punya senjata menghadapi pasukan teroris Israel yang dilengkapi dengan berbagai senjata canggih itu?
Sa’id mengira ceramah Pemrednya selesai. Tiba-tiba ia dikagetkan lagi dengan ungkapannya : Kita tidak boleh menyinggung oarng-rang kaya Arab dan bagaimana mereka menghabiskan uang mereka jutaan dolar AS untuk pesta kembang api, pesta artis, penyanyi di saat penduduk Gaza mati kelaparan. Andakan tahu sumber pendapatan majalah kita dari iklan. Bila orang-orang kaya itu tersinggung dan marah pada majalah kita, kita tidak akan mendapatkan iklan mereka.. Anda mengerti kan? Kita belum siap kelaparan seperti penduduk Gaza. Oke?
Mendengar ungkapan terakhir itu, Said tidak bisa lagi menyembunyikan marahnya, lalu ia berkata. Oke Bos… Masih ada perintah lain? Tanya Sa’id. Sebenarnya tidak ada lagi. Saya sebenarnya tidak mau banyak menasehati Anda… Ingat ya! Jangan bicara soal anak-anak Gaza yang sedang berjuang menghadapi kematian karena kelaparan dan serangan berbagai penyakit. Anda tahukan bahwa media Arab sibuk mengurusi kontes kecantikan hewan ternak. Sedangkan media Barat sibuk pula meliput anjing yang ditemukan pasukan Amerika di Irak, bahkan mereka meminta agar pemerintah Barack Obama meberikan suaka poltik agar anjing tersebut bisa masuk dan menjadi warga negara Amerika.. Masalah ini juga jangan Anda singgung. Nanti organisasi penyayang hewan dunia bisa marah kepada kita. Mengerti? Kata Pemred itu kepada Sa’id.
Di muka Said memancar warna kemerahan pertanda marahnya sudah memuncak. Namun, karena Sai’id seorang yang taat ibadah, ia bisa menahan marahnya. Lalu ia memuji Allah sambil berkata : Subhanallah… Apalagi perintahnya Bos? Bosnya dengan tenang menjawab : Tidak ada lagi, hanya itu saja, bagi saya sudah cukup. Lalu Sa’id menimpali perkataan bosnya : bapak yakin tidak ada lagi perintah lain? Kitakan tidak ingin orang lain marah karena tulisan kita kan?
Mendengar pertanyaan itu, sang Pemred ingat lagi masalah lain yang tak boleh disinggung sambil berkata : Oh ya, karena Anda ingatkan saya, saya masih punya larangan lain yakni, terkait dengan dialog antar agama yang akan diadakan di Negara kita bebrapa hari lagi. Kita tidak mau dituduh oleh para promotornya sebagai penghalang acara tersebut. Sebab itu, Anda jangan sama sekali menyinggung kaum Yahudi dan penindasan mereka terhadap bangsa Palestina serta penghinaan mereka terhadap tempat suci kaum Muslimin. Nanti para penggagas dan pendukung dialog antar agama bisa marah pada majalah kita loh!. Dengan suara keras, Sa’id menjawab : OKE BOOOSS?
Akhirnyanya Sa’id keluar dari ruangan pimpinannya dalam keadaan marah besar karena dia ditugaskan menulis tentang kenyataan yang ada di Gaza, akan tetapi dengan seribu satu pantangan…Namun Sa’id tidak kehabisan akal, karena ia seorang wartawan cerdas. Tanpa melanggar perintah bosnya, ia menulis laporan utama terkait Gaza dan keesokan harinya ia serahkan hasil tulisannya itu kepada pimpinannya agar dikoreksi sebelum diturunkan. Isi tulisannya ialah :
Gaza adalah The Biggest Health Center and NO.1 di dunia. Penduduknya menghabiskan hari-hari mereka dengan sangat bahagia setelah memutuskan untuk mengikuti nasehat para ahli kesehatan moderen agar tidak mengkonsumsi makanan yang menyebabkan kolesterol tinggi, tekanan darah naik, dan kegemukan. Demikian pula, mereka berhasil menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan bahan bakar minyak dan zat kimia lainnya. Untuk itu, mereka menerapkan olah raga berjalan kaki yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan akal, khususnya bagi para manula, orang cacat, orang sakit dan para wanita hamil.
Adapun rumah sakit dan tempat-tempat pelayanan kesehatan sudah ditutup, karena sudah terbukti dan tidak perlu diragukan bahwa obat-obat tradisional alias moderen adalah penyebab munculnya berbagai penyakit dan membunuh daya imunitas tubuh. Sebab itu, para penduduk Gaza kembali mengkonsumsi obat-obatan yang terbuat dari daun kayu dan rumput-rumputan atau apa yang disebut dengan alami atau herbal karena mengikuti petuah atau metode pengobatan kuno, atau konsep, back to nature.
Sebab itu, penduduk Gaza menjadi orang-orang yang kuat dan sehat sehingga mampu menggali terowonngan sepanjang belasan kilometer, pemberani, dan seakan tidak mempan senjata canggih, kendati dihujani dengan white phosphor lebih dari 1.5 juta kg. Karena itu pulalah semua penduduk Gaza, laki-laki, wanita dan anak-anak banyak mengucapkan terima kasih pada pemerintah yang ikut memblokade mereka. Boikot dan blokade itu telah menyebabkan mereka menemukan jalan hidup (life style) yang sehat wal afiat dan jauh dari godaan peradaban yang merusak kesehatan, baik fisik maupun akal.
Yang lebih utama, mereka meminta pada Allah agar Allah memberikan kesempatan pada para pemimpin negera yang ikut memblokade Gaza, isteri-isteri dan anak-anak mereka agar dapat kesempatan menerapkan pola hidup sehat seperti yang mereka lakukan sejak beberapa tahun belakangan.
Demikian juga, penduduk Gaza berterima kasih pada pemerintahan Israel yang dengan terpaksa menugaskan ribuan pasukannya untuk mengontrol dan meyakini tidak sampainya bantuan dan bahan-bahan yang berbahaya - seperti yang dijelaskan sebelumnya- ke Gaza. Semoga blokade itu mejadi faktor kebaikan yang banyak bagi Gaza dalam segala hal dan turunnya pertolongan dari Allah.
Amin yaa Robb.… (fj/zadalebad.com)
sumber : www.eramuslim.com
Sa’id diterima dengan sangat hangat oleh pimpinannya sambil berkata : Selamat datang wartawan muda…. Terbukti keberadaan Anda yang tidak begitu lama di Gaza telah membuktikan pada kami bahwa Anda adalah wartawan yang tangguh dan serius. Saya mewakili pimpinan media ini mengucapkan banyak terima kasih..
Sebagai imbalannya, saya memutuskan Anda menulis laporan utama untuk terbitan pekan depan terkait dengan blokade terhadap Gaza yang dilakukan oleh Yahudi dan pemerintah Mesir. Sa’idpun menjawab dengan penuh semangat : Terima kasih pak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Semoga saya bisa melaksanakan tugas mulia ini dengan baik dan maksimal. Tema Gaza ini memang menjadi konsentrasi saya sejak saya diterima bekerja di majalah ini.
Sa’id melanjutkan ungkapan kegembiraannya : Saya akan tulis semua hal terkait dengan Gaza secara detail karana saat ini hati kaum Muslimin sedunia memang sedang terluka dan bersedih melihat blokade terhadap Gaza.
Sambil menganggukkan kepala, sang Pemred berucap; Anda benar, Anda benar… lalu Sa’id berkata : Saya akan mulai segera dan akan buat tulisan-tulisan yang akan menggema ke seluruh penjuru dunia, insya Allah…Barakallahu fika ya akhi… (semoga Allah memberkahimu saudaraku), ucap sang Pemred tadi. Namun, sebelum Anda mulai menulis, ada beberapa catatan kecil yang perlu Anda perhatikan. Sai’id segera beratanya : Apakah catatan kecil itu pak?
Lalu sang Pemred meneruskan: Andakan tahu bahwa majalah kita ini tidak didukung oleh tokoh-tokoh besar di negeri ini. Maksudnya? Kata Sai’d, sambil menyela perkataan pimpinannya itu. Maksudnya, tulisan Anda jangan sampai menyinggung pemerintahan Arab yang terlibat memblokade Gaza dengan penuh semangat dan begitu aktif.. Semoga Allah meridhai Anda..Kita tidak mau bermasalah dengan para inteligen negera-negara Arab yang ikut memblokade Gaza… Bisa-bisa kita dituduh merusak hubungan persaudaraan antar negara-negara Arab, kata Pemred itu..
Sambil melepaskan nafas panjangnya, Sai’d menjawab : Yaach… Oke pak. Saya akan jaga catatan itu, kendati saya melihat hubungan persaudaraan negara-negara Arab tidak akan bisa dirusak oleh siapapun…Lalu sang Pemred meneruskan arahannya :
Barakallhu fik… Tapi, ada catatan kecil lagi yang tak kalah pentingnya yang perlu Anda ingat. Apa itu? Jawab Sa’id… Andakan tahu bahwa distribusi majalah kita bukan hanya di negera-negara Arab, akan tetapi juga di negara-negara Eropa dan Amerika. Kita tidak mau dituduh mendukung terorisme sehingga majalah kita dilarang beredar di sana. Sebab itu, dalam tulisan nanti, Anda jangan sama sekali menyinggung perlawanan bangsa Palestina terhadap Israel dan hak mereka untuk memerangi penjajah Yahudi… Kita tidak mau menghadapi banyak masalah…Nanti kita dituduh mendukung teroris. Oke? Semoga Allah meridhai Anda. Kata Pemred majalah tersebut.
Mendengar keterangan pimpinannya, Sa’id menjawab : Baik pak! Padahal dalam hatinya berkata : Sadis amat Pemred ini, mau membela Gaza, tapi tidak boleh ini dan tidak boleh itu? Dalam hatinya ia berkata : Aku tidak mengerti bagaimana cara membela masyarakat Gaza yang tak punya senjata menghadapi pasukan teroris Israel yang dilengkapi dengan berbagai senjata canggih itu?
Sa’id mengira ceramah Pemrednya selesai. Tiba-tiba ia dikagetkan lagi dengan ungkapannya : Kita tidak boleh menyinggung oarng-rang kaya Arab dan bagaimana mereka menghabiskan uang mereka jutaan dolar AS untuk pesta kembang api, pesta artis, penyanyi di saat penduduk Gaza mati kelaparan. Andakan tahu sumber pendapatan majalah kita dari iklan. Bila orang-orang kaya itu tersinggung dan marah pada majalah kita, kita tidak akan mendapatkan iklan mereka.. Anda mengerti kan? Kita belum siap kelaparan seperti penduduk Gaza. Oke?
Mendengar ungkapan terakhir itu, Said tidak bisa lagi menyembunyikan marahnya, lalu ia berkata. Oke Bos… Masih ada perintah lain? Tanya Sa’id. Sebenarnya tidak ada lagi. Saya sebenarnya tidak mau banyak menasehati Anda… Ingat ya! Jangan bicara soal anak-anak Gaza yang sedang berjuang menghadapi kematian karena kelaparan dan serangan berbagai penyakit. Anda tahukan bahwa media Arab sibuk mengurusi kontes kecantikan hewan ternak. Sedangkan media Barat sibuk pula meliput anjing yang ditemukan pasukan Amerika di Irak, bahkan mereka meminta agar pemerintah Barack Obama meberikan suaka poltik agar anjing tersebut bisa masuk dan menjadi warga negara Amerika.. Masalah ini juga jangan Anda singgung. Nanti organisasi penyayang hewan dunia bisa marah kepada kita. Mengerti? Kata Pemred itu kepada Sa’id.
Di muka Said memancar warna kemerahan pertanda marahnya sudah memuncak. Namun, karena Sai’id seorang yang taat ibadah, ia bisa menahan marahnya. Lalu ia memuji Allah sambil berkata : Subhanallah… Apalagi perintahnya Bos? Bosnya dengan tenang menjawab : Tidak ada lagi, hanya itu saja, bagi saya sudah cukup. Lalu Sa’id menimpali perkataan bosnya : bapak yakin tidak ada lagi perintah lain? Kitakan tidak ingin orang lain marah karena tulisan kita kan?
Mendengar pertanyaan itu, sang Pemred ingat lagi masalah lain yang tak boleh disinggung sambil berkata : Oh ya, karena Anda ingatkan saya, saya masih punya larangan lain yakni, terkait dengan dialog antar agama yang akan diadakan di Negara kita bebrapa hari lagi. Kita tidak mau dituduh oleh para promotornya sebagai penghalang acara tersebut. Sebab itu, Anda jangan sama sekali menyinggung kaum Yahudi dan penindasan mereka terhadap bangsa Palestina serta penghinaan mereka terhadap tempat suci kaum Muslimin. Nanti para penggagas dan pendukung dialog antar agama bisa marah pada majalah kita loh!. Dengan suara keras, Sa’id menjawab : OKE BOOOSS?
Akhirnyanya Sa’id keluar dari ruangan pimpinannya dalam keadaan marah besar karena dia ditugaskan menulis tentang kenyataan yang ada di Gaza, akan tetapi dengan seribu satu pantangan…Namun Sa’id tidak kehabisan akal, karena ia seorang wartawan cerdas. Tanpa melanggar perintah bosnya, ia menulis laporan utama terkait Gaza dan keesokan harinya ia serahkan hasil tulisannya itu kepada pimpinannya agar dikoreksi sebelum diturunkan. Isi tulisannya ialah :
Gaza adalah The Biggest Health Center and NO.1 di dunia. Penduduknya menghabiskan hari-hari mereka dengan sangat bahagia setelah memutuskan untuk mengikuti nasehat para ahli kesehatan moderen agar tidak mengkonsumsi makanan yang menyebabkan kolesterol tinggi, tekanan darah naik, dan kegemukan. Demikian pula, mereka berhasil menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan bahan bakar minyak dan zat kimia lainnya. Untuk itu, mereka menerapkan olah raga berjalan kaki yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan akal, khususnya bagi para manula, orang cacat, orang sakit dan para wanita hamil.
Adapun rumah sakit dan tempat-tempat pelayanan kesehatan sudah ditutup, karena sudah terbukti dan tidak perlu diragukan bahwa obat-obat tradisional alias moderen adalah penyebab munculnya berbagai penyakit dan membunuh daya imunitas tubuh. Sebab itu, para penduduk Gaza kembali mengkonsumsi obat-obatan yang terbuat dari daun kayu dan rumput-rumputan atau apa yang disebut dengan alami atau herbal karena mengikuti petuah atau metode pengobatan kuno, atau konsep, back to nature.
Sebab itu, penduduk Gaza menjadi orang-orang yang kuat dan sehat sehingga mampu menggali terowonngan sepanjang belasan kilometer, pemberani, dan seakan tidak mempan senjata canggih, kendati dihujani dengan white phosphor lebih dari 1.5 juta kg. Karena itu pulalah semua penduduk Gaza, laki-laki, wanita dan anak-anak banyak mengucapkan terima kasih pada pemerintah yang ikut memblokade mereka. Boikot dan blokade itu telah menyebabkan mereka menemukan jalan hidup (life style) yang sehat wal afiat dan jauh dari godaan peradaban yang merusak kesehatan, baik fisik maupun akal.
Yang lebih utama, mereka meminta pada Allah agar Allah memberikan kesempatan pada para pemimpin negera yang ikut memblokade Gaza, isteri-isteri dan anak-anak mereka agar dapat kesempatan menerapkan pola hidup sehat seperti yang mereka lakukan sejak beberapa tahun belakangan.
Demikian juga, penduduk Gaza berterima kasih pada pemerintahan Israel yang dengan terpaksa menugaskan ribuan pasukannya untuk mengontrol dan meyakini tidak sampainya bantuan dan bahan-bahan yang berbahaya - seperti yang dijelaskan sebelumnya- ke Gaza. Semoga blokade itu mejadi faktor kebaikan yang banyak bagi Gaza dalam segala hal dan turunnya pertolongan dari Allah.
Amin yaa Robb.… (fj/zadalebad.com)
sumber : www.eramuslim.com
Sabtu, 31 Oktober 2009
Fatah - Fire in the air part II
Tuan Mustafa berjalan menuju ke gelapan yang hening, lalu mengucapkan salam pada Tuan Fatah, “Assalamu alaikum, sepertinya kita ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu kembali.”, “wa alaikum salam, yah dan sepertinya tatapanmu melambangkan sesuatu yang dalam Tuan Mustafa.” Dengan pandangan yang tenang Tuan Fatah membalas salam dari Tuan Mustafa.
“Bagaimana kalau kita keluar sebentar, aku tahu sebuah restoran yang terkenal di sekitar sini.“, Ucap Tuan Mustafa.”Tentu saja”, Kata Tuan Fatah menyetujui tawaran tersebut.
“Tuan Fatah, jika boleh saya ingin mengetahui maksud kedatangan anda ke acara tersebut ?”, Kata-kata tersebut keluar dari mulut Tuan Mustafa.” Oh.. hal tersebut, kebetulan saya dan Miss Fernandez adalah teman lama – awalnya ketika saya dan Miss Fernandez bertemu di Moskow dan kemudian beginilah jadinya.”, Jawab Tuan Fatah singkat.
Tuan Mustafa masih terus memikirkan kejadian yang baru terjadi di acara Miss Fernandez, terjadi keheningan yang cukup panjang , lalu Tuan Fatah kembali membuka pembicaraan “Sepertinya Anda sedang memikirkan sesuatu yang cukup pelik.”, ucapan Tuan Fatah membongkar lamunan Tuan Mustafa “Ah.. iya, sku sedang memikirkan masalah yang terjadi di rumah Miss Fernandez.”, jawab Tuan Mustafa sambil mengernyitkan dahinya.
Sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu pukul 00:30, Tuan Fatah kemudian beranjak dari kursinya ”Sepertinya waktu sudah cukup larut dan sepertinya saya sudah harus pulang – kadang drama yang besar memiliki pembukaan yang besar juga saudara ku.”,setelah berjabat tangan Tuan Fatah kemudian hilang dalam hiruk pikuk orang di dalam restoran tersebut. Sambil melepas kepergian Tuan Fatah, dengan tatapan penuh keheranan Tuan Mustafa masih berpikir tentang ucapan Tuan Fatah.
Dua hari berlalu sejak kasus tersebut dan Smary terlihat sangat terpukul oleh kasus tersebut. Miss Fernandez menyuruh Tuan Mustafa untuk tinggal lebih lama bersama mereka karena satu dan lain hal. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam miss Fernandez menyuruh Tuan Mustafa untuk pergi ke kamarnya, “Mustafa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu – kau tentunya sudah tahu bahwa selama ini aku hidup sendiri dan Smary adalah satu-satunya orang yang menemaniku.”, Miss Fernandez berhenti sejenak dan menatap Tuan Mustafa yang memberikan anggukan kecil tanda bahwa dia mengerti, “Dan aku akan melakukan apapun untuk membuat Smary tetap berada di sisiku, maka akupun membuat kasus pencurian tersebut dan memastikan tersengka utama adalah perempuan tersebut.”, lanjut Miss Fernandez yang seketika mengubah raut wajah Tuan Mustafa “jadi ?”, Tuan Mustafa berkata dengan penuh keterkejutan, “ya.. aku sengaja memberi tahu mua agar kau tidak terlalu turut campur dalam masalah ini – tentunya aku tahu kau mengerti keadaan ku, kau satu-satunya orang yang aku percaya – aku juga telah memberitahukan hal ini kepada Smary dan dia terlihat cukup mengerti dan menerimanya.”, ucap Miss Fernandez memtuskan keterkajutan Tuan Mustafa.
Hari itu adalah hari ke-5 Tuan Mustafa tinggal di kediaman Miss Fernandez dan cuaca terasa sangat panas apalagi di ruang Miss Fernandez yang kurang memiliki ventilasi sebagai lalu lintas udara, penyebabnya karena Miss Fernandez menggunakan pendingin ruangan A.C.(Air Conditioner), tapi hari itu A.C. di kamar Miss Fernandez mengalami kerusakan sehingga saat ini sedang diperbaiki oleh Smary, karena dia adalah seorang yang memiliki pengalaman bergelut dengan mesin, setelah lebih dari 6 jam Smary mengutak-atik mesin tersebut akhirnya dia pun telah meletakkan A.C tersebut di tempatnya dan berpesan agar A.C. tersebut jangan langsung dipakai dan beru bias dioperasikan besok hari.
Tuan Mustafa akhir-akhir ini selalu memperhatikan Smary “orang yang tegar “ pikir Tuan Mustafa – Tuan Mustafa kemudian berjalan menuju belakang rumah sambil menepuk belakang Smary yang sedang termenung menatap rembulan ditemani sebotol red wine, dua buah roti Perancis dan semangkuk Cheese Founde yang masih panas, Smary cukup terkejut dengan kedatangan Tuan Mustafa, kemudian dengan tenang ia mempersilahkan Tuan Mustafa duduk dan menuangkan red wine ke gelas Tuan Mustafa, “maaf, Islam melarang kami mengkonsumsi hal seperti ini.”, ucap Tuan Mustafa sambil menunjuk kea rah red wine yang baru dituangkan Smary, “oh.. Maaf saya tidak tahu, bagaimana kalau segelas kopi Turki Hangat ?” , Smary berucap dengan nada penyesalan dan dibalas dengan anggukan oleh Tuan Mustafa tanda ia menyetujui ide Smary.
“kau terlihat cukup kuat menghadapi kenyataan yang ada.”, Tuan Mustafa membuka pembicaraan mereka., “ah.. sudah sewajarnya dia adalah ibuku dan telah mengurusku hingga aku besar, tapi sudahlah mari kita bicarakan hal lain saja.”, jawab Smary, “tentu saja, mari bicarakan tentang pengalamanmu selama di AD.”, lanjut Tuan Mustafa – Smary melanjutkan pembicaraan tentang dirinya yang mengurus bidang penemuan dan pengembangan senjata, berbagai jenis senjata yang dimiliki oleh AD dan senjata temuan terbaru berupa gas beracun yang akan bekerja pada suhu di bawah 20º C. “orang yang cerdas, tapi dia tidak memiliki keberuntungan.”, pikir Tuan Mustafa – malam semakin larut dan akhirnya memutuskan mereka untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
Hari itu pikiran Tuan Mustafa tertuju pada kata-kata Tuan Fatah “Drama yang besar kadang mempunyai ‘pembukaan’ yang besar pula.”, saat itu jam tangan Tuan Mustafa menunjukkan pukul 17:30 dan di lantai bawah Smary sedang bersiap-siap untuk keluar kelihatannya dia akan berbelanja kebutuhan mingguannya.
Sesaat setelah kepergian Smary Miss Fernandez masuk kedalam kamarnya, Tuan Mustafa kembali mengingat-ingat percakapannya dengan Smary semalam dan pikirannya tertuju pada senjata terbaru milik AD yang membuatnya berlari menuju kamar Miss Fernandez dan tepat di depan kamar tersebut Tuan Mustafa sudah merasakan hawa dingin yang tentunya keluar dari AC Miss Fernandez – berkisar diantara 16-18 celcius, dengan suara penuh ketakutan Tuan Mustafa menyuruh Benjamin – seorang pelayan Miss Fernandez mendobrak kamar Miss Fernandez, bau gas menyengat yang keluar dari dalam AC menusuk hidung mereka, sambil menutup hidung mereka dengan pakaian tiba-tiba Benjamin tertunduk lemas ketika melihat Miss Fernandez terbujur kaku sudah tak bernyawa.
Seketika Tuan Mustafa keluar dan mengambil HP yang tersimpan di kantungnya, lalu menelepon Smary “Tuan Mustafa, sepertinya anda telah mengetahui yang terjadi.”, Smary berucap “apa yang kau lakukan ?’, balas Tuan Mustafa dengan suara membentak “oh..iya katakana pada mereka yang ada di rumah dan kekasihku aku sudah menyusul ibu ku… BANG….” Terdengar suara tembakan di seberang telepon “Halo…Halo..?”, desak Tuan Mustafa mengharap ada jawaban dari seberang telepon “Tut…Tut…” Suara terputus.
Sehari selepas itu Tuan Mustafa pulang dengan penyesalan setelah menyelesaikan masalah tersebut di kantor Polisi.
“Bagaimana kalau kita keluar sebentar, aku tahu sebuah restoran yang terkenal di sekitar sini.“, Ucap Tuan Mustafa.”Tentu saja”, Kata Tuan Fatah menyetujui tawaran tersebut.
“Tuan Fatah, jika boleh saya ingin mengetahui maksud kedatangan anda ke acara tersebut ?”, Kata-kata tersebut keluar dari mulut Tuan Mustafa.” Oh.. hal tersebut, kebetulan saya dan Miss Fernandez adalah teman lama – awalnya ketika saya dan Miss Fernandez bertemu di Moskow dan kemudian beginilah jadinya.”, Jawab Tuan Fatah singkat.
Tuan Mustafa masih terus memikirkan kejadian yang baru terjadi di acara Miss Fernandez, terjadi keheningan yang cukup panjang , lalu Tuan Fatah kembali membuka pembicaraan “Sepertinya Anda sedang memikirkan sesuatu yang cukup pelik.”, ucapan Tuan Fatah membongkar lamunan Tuan Mustafa “Ah.. iya, sku sedang memikirkan masalah yang terjadi di rumah Miss Fernandez.”, jawab Tuan Mustafa sambil mengernyitkan dahinya.
Sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu pukul 00:30, Tuan Fatah kemudian beranjak dari kursinya ”Sepertinya waktu sudah cukup larut dan sepertinya saya sudah harus pulang – kadang drama yang besar memiliki pembukaan yang besar juga saudara ku.”,setelah berjabat tangan Tuan Fatah kemudian hilang dalam hiruk pikuk orang di dalam restoran tersebut. Sambil melepas kepergian Tuan Fatah, dengan tatapan penuh keheranan Tuan Mustafa masih berpikir tentang ucapan Tuan Fatah.
Dua hari berlalu sejak kasus tersebut dan Smary terlihat sangat terpukul oleh kasus tersebut. Miss Fernandez menyuruh Tuan Mustafa untuk tinggal lebih lama bersama mereka karena satu dan lain hal. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam miss Fernandez menyuruh Tuan Mustafa untuk pergi ke kamarnya, “Mustafa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu – kau tentunya sudah tahu bahwa selama ini aku hidup sendiri dan Smary adalah satu-satunya orang yang menemaniku.”, Miss Fernandez berhenti sejenak dan menatap Tuan Mustafa yang memberikan anggukan kecil tanda bahwa dia mengerti, “Dan aku akan melakukan apapun untuk membuat Smary tetap berada di sisiku, maka akupun membuat kasus pencurian tersebut dan memastikan tersengka utama adalah perempuan tersebut.”, lanjut Miss Fernandez yang seketika mengubah raut wajah Tuan Mustafa “jadi ?”, Tuan Mustafa berkata dengan penuh keterkejutan, “ya.. aku sengaja memberi tahu mua agar kau tidak terlalu turut campur dalam masalah ini – tentunya aku tahu kau mengerti keadaan ku, kau satu-satunya orang yang aku percaya – aku juga telah memberitahukan hal ini kepada Smary dan dia terlihat cukup mengerti dan menerimanya.”, ucap Miss Fernandez memtuskan keterkajutan Tuan Mustafa.
Hari itu adalah hari ke-5 Tuan Mustafa tinggal di kediaman Miss Fernandez dan cuaca terasa sangat panas apalagi di ruang Miss Fernandez yang kurang memiliki ventilasi sebagai lalu lintas udara, penyebabnya karena Miss Fernandez menggunakan pendingin ruangan A.C.(Air Conditioner), tapi hari itu A.C. di kamar Miss Fernandez mengalami kerusakan sehingga saat ini sedang diperbaiki oleh Smary, karena dia adalah seorang yang memiliki pengalaman bergelut dengan mesin, setelah lebih dari 6 jam Smary mengutak-atik mesin tersebut akhirnya dia pun telah meletakkan A.C tersebut di tempatnya dan berpesan agar A.C. tersebut jangan langsung dipakai dan beru bias dioperasikan besok hari.
Tuan Mustafa akhir-akhir ini selalu memperhatikan Smary “orang yang tegar “ pikir Tuan Mustafa – Tuan Mustafa kemudian berjalan menuju belakang rumah sambil menepuk belakang Smary yang sedang termenung menatap rembulan ditemani sebotol red wine, dua buah roti Perancis dan semangkuk Cheese Founde yang masih panas, Smary cukup terkejut dengan kedatangan Tuan Mustafa, kemudian dengan tenang ia mempersilahkan Tuan Mustafa duduk dan menuangkan red wine ke gelas Tuan Mustafa, “maaf, Islam melarang kami mengkonsumsi hal seperti ini.”, ucap Tuan Mustafa sambil menunjuk kea rah red wine yang baru dituangkan Smary, “oh.. Maaf saya tidak tahu, bagaimana kalau segelas kopi Turki Hangat ?” , Smary berucap dengan nada penyesalan dan dibalas dengan anggukan oleh Tuan Mustafa tanda ia menyetujui ide Smary.
“kau terlihat cukup kuat menghadapi kenyataan yang ada.”, Tuan Mustafa membuka pembicaraan mereka., “ah.. sudah sewajarnya dia adalah ibuku dan telah mengurusku hingga aku besar, tapi sudahlah mari kita bicarakan hal lain saja.”, jawab Smary, “tentu saja, mari bicarakan tentang pengalamanmu selama di AD.”, lanjut Tuan Mustafa – Smary melanjutkan pembicaraan tentang dirinya yang mengurus bidang penemuan dan pengembangan senjata, berbagai jenis senjata yang dimiliki oleh AD dan senjata temuan terbaru berupa gas beracun yang akan bekerja pada suhu di bawah 20º C. “orang yang cerdas, tapi dia tidak memiliki keberuntungan.”, pikir Tuan Mustafa – malam semakin larut dan akhirnya memutuskan mereka untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
Hari itu pikiran Tuan Mustafa tertuju pada kata-kata Tuan Fatah “Drama yang besar kadang mempunyai ‘pembukaan’ yang besar pula.”, saat itu jam tangan Tuan Mustafa menunjukkan pukul 17:30 dan di lantai bawah Smary sedang bersiap-siap untuk keluar kelihatannya dia akan berbelanja kebutuhan mingguannya.
Sesaat setelah kepergian Smary Miss Fernandez masuk kedalam kamarnya, Tuan Mustafa kembali mengingat-ingat percakapannya dengan Smary semalam dan pikirannya tertuju pada senjata terbaru milik AD yang membuatnya berlari menuju kamar Miss Fernandez dan tepat di depan kamar tersebut Tuan Mustafa sudah merasakan hawa dingin yang tentunya keluar dari AC Miss Fernandez – berkisar diantara 16-18 celcius, dengan suara penuh ketakutan Tuan Mustafa menyuruh Benjamin – seorang pelayan Miss Fernandez mendobrak kamar Miss Fernandez, bau gas menyengat yang keluar dari dalam AC menusuk hidung mereka, sambil menutup hidung mereka dengan pakaian tiba-tiba Benjamin tertunduk lemas ketika melihat Miss Fernandez terbujur kaku sudah tak bernyawa.
Seketika Tuan Mustafa keluar dan mengambil HP yang tersimpan di kantungnya, lalu menelepon Smary “Tuan Mustafa, sepertinya anda telah mengetahui yang terjadi.”, Smary berucap “apa yang kau lakukan ?’, balas Tuan Mustafa dengan suara membentak “oh..iya katakana pada mereka yang ada di rumah dan kekasihku aku sudah menyusul ibu ku… BANG….” Terdengar suara tembakan di seberang telepon “Halo…Halo..?”, desak Tuan Mustafa mengharap ada jawaban dari seberang telepon “Tut…Tut…” Suara terputus.
Sehari selepas itu Tuan Mustafa pulang dengan penyesalan setelah menyelesaikan masalah tersebut di kantor Polisi.
Langganan:
Postingan (Atom)

